Israel Tinggalkan Perundingan Gencatan Senjata di Qatar, Hamas Tolak Usulan Proposal Baru

KABUPATEN CIREBON, DBFM- Israel telah meninggalkan perundingan gencatan senjata di Gaza.

Israel telah menarik diri dari putaran terakhir perundingan gencatan senjata Gaza di Qatar menyusul penolakan Hamas terhadap proposal baru tersebut.

Tel Aviv telah memutus perundingan di Qatar setelah penolakan Hamas, The Times of Israel melaporkan pada tanggal 26 Maret, dan menambahkan bahwa resolusi hari Senin di Dewan Keamanan PBB adalah penyebabnya.

Israel menarik kembali timnya dari Doha, yang secara efektif mengakhiri negosiasi, kata seorang sumber Israel kepada outlet tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sekali lagi menyebut tuntutan Hamas untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata sebagai delusi.

Mereka mengatakan bahwa kelompok perlawanan tidak tertarik untuk mencapai kesepakatan.

Menurut sumber yang dikutip oleh Reuters, tim Israel telah meninggalkan beberapa anggotanya yang terlibat dalam perundingan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar juga mengatakan bahwa pembicaraan sedang berlangsung.

Hamas terus mempertahankan persyaratannya di antara syaratnya adalah untuk mengakhiri permusuhan secara permanen, menarik pasukan Israel dari Gaza, mengizinkan distribusi bantuan ke seluruh Jalur Gaza, dan memulangkan para pengungsi, yang telah berulang kali ditolak Israel selama perundingan dalam beberapa bulan terakhir.

Ada kesenjangan besar antara tuntutan Hamas dan proposal terbaru yang dibahas selama seminggu terakhir antara para pejabat AS, Israel, Qatar, dan Mesir, khususnya mengenai jumlah tahanan keamanan yang diminta oleh kelompok perlawanan untuk dibebaskan sebagai imbalan atas pembebasan perempuan. Tentara tentara Israel ditahan di Jalur Gaza.

Kegagalan terbaru dalam perundingan gencatan senjata terjadi satu hari setelah AS bersikap abstain dari Resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata sementara di Gaza.

Menanggapi sikap abstain tersebut, Benjamin Netanyahu membatalkan perjalanan delegasi Israel ke AS yang akan datang, yang dimaksudkan untuk berdiskusi dengan para pejabat di Washington tentang rencana serangan Israel di kota Rafah paling selatan di Gaza.

Sikap abstain AS memungkinkan resolusi tersebut disahkan, karena Israel mengharapkan AS untuk menggunakan hak vetonya.

Kantor Netanyahu mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa “Amerika Serikat telah meninggalkan kebijakannya di PBB saat ini. Beberapa hari yang lalu, mereka mendukung resolusi Dewan Keamanan yang menghubungkan seruan gencatan senjata dengan pembebasan sandera.”

Rusia dan Tiongkok memveto Resolusi Dewan Keamanan PBB yang dirancang AS pada tanggal 22 Maret, dan menyebutnya “tidak ada gunanya” dan menyebutnya sebagai wewenang penuh bagi Israel untuk melanjutkan serangannya terhadap Rafah, tempat lebih dari 1,2 juta warga sipil Palestina terkepung dan terdampar.

( Artikel ini Bersumber : tribunnews.com )