RSD Gunung Jati Sampaikan Permintaan Maaf Atas Pelayanan Yang Dikeluhkan Pasien

Bagikan Artikel Ini

KOTA CIREBON, DBFM – RSD Gunung Jati Cirebon menyampaikan permintaan maaf terkait pelayanan yang dikeluhkan pasein dari unggahan di medsos Anggota DPRD Kota Cirebon Cicip Awaludin atas tidak tanggapnya dokter spesialis terhadap pasien.

Direktur RSD Gunung Jati Cirebon, dr Katibi menjelaskan kondisi IGD pada saat itu sedang padat ada sekitar 83 pasien. menurutnya, pasien tersebut datang ke IGD pada Minggu (20/8) pukul 15.56 WIB.

“Kemudian konsultasi ke dokter jaga, lalu keluarga pasien menunggu kepastian dirawat inap atau rawat jalan. karena tidak mendapat kabar dari dokter spesialis sampai pukul 02.30, keluarga pasien memutuskan untuk pulang,” jelas dr Katibi, Selasa (23/8/2022).

Meski begitu pihaknya berjanji akan mendalami lebih lanjut masalah ini, sebab dalam situasi tersebut dimungkinkan adanya kesalahan perorangan atau tidak.

“Kami belum bisa memastikan kesalahan siapa, untuk itu kami akan membentuk tim khusus untuk membenahi kembali pelayanan bagi pasien peserta BPJS maupun umum,” ungkapnya.

Untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali, pihak RSD Gunung Jati menegaskan akan melakukan audit medis secara berkala.

“Kami akan audit jika ada hal yang tidak sesuai, akan dicari akar masalahnya. Apakah waktu 6 jam itu terhitung waktu kedatangan pasien sampai keputusan dirawat inap atau tidak,” tegas Katibi.

Seperti diketahui, unggahan Anggota DPRD Kota Cirebon Cicip Awaludin di akun miliknya viral terkait tidak tanggapnya oknum dokter spesialis di RSD Gunung Jati terhadap pasien.

Cicip menceritakan dalam unggahannya, pada Minggu malam (21/8), ibundanya masuk IGD RSD Gunung Jati.

Menurutnya, di IGD sampai 11 jam tidak ada kepastian dari dokter spesialis, apakah ibundanya menjalani rawat jalan atau rawat inap.

“Oleh pihak RS dikabarkan dokter spesialis sudah dihubungi sejak Minggu malam hingga Senin pagi hari pukul 03.00 WIB. Selama itu tidak ada jawaban dari dokter,” terang Cicip pada Senin (22/8).

Dijelaskan dia, situasi IGD terus ramai dengan kedatangan pasien. Lalu pihak keluarga memutuskan untuk pulang dulu, karena selama 11 jam tidak ada kepastian.

Kemudian pihak keluarga pasien disodorkan kertas berisi pernyataan pulang paksa. Dengan dilandasi kekecewaan yang sangat besar, terpaksa ditandatanganinya.

“Sudah 11 jam menunggu keputusan dari dokter, tapi tidak ada kepastian. Di IGD situasi makin ramai pasien. Sampai kapan ibu saya di IGD terus ? Direktur dan manajemen RS Gunung Jati harus bertindak terhadap oknum dokter spesialis yang tidak profesional dalam menjalankan tugasnya,” tulis Cicip.

Menurut Cicip, dirinya saja yang seorang anggota dewan masih mendapatkan pelayanan seperti itu dari pihak RSD Gunung Jati. Bagaimana dengan masyarakat biasa.

“Lalu bagaimana dengan warga kurang mampu yang berobat ke RS tersebut ? Bisa dibayangkan ada banyak kasus yang terjadi. Harus ada perubahan dan perbaikan, manajemen RS wajib berbenah,” ucapnya.

Dirinya juga menyampaikan ibundanya yang memiliki fasilitas BPJS, tetap tidak mendapatkan obat-obatan secara lengkap.

“Selalu saja ada obat yang harus dibeli di luar. Silahkan tanyakan ke pasien BPJS, berapa banyak yang mengalami hal serupa. Kasihan warga kurang mampu yang memiliki fasilitas BPJS kalau tetap harus ada obat yang dibeli di luar,” kata Cicip.

Bagikan Artikel Ini