Kejari Kota Cirebon Tetapkan 4 Tersangka Kasus Benda Cagar Budaya Pompa Riol

Bagikan Artikel Ini

KOTA CIREBON, DBFM – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Cirebon, menetapkan 4 tersangka yang berasal dari dua pejabat Pemkot Cirebon yakni SGT dan LLK serta dua orang dari pihak swasta, P dan ANT.

Kepala Kejari Kota Cirebon, Umaryadi menjelaskan telah menetapan 4 tersangka terkait kasus hilangnya pompa air riol benda cagar budaya (BCB) yang memiliki nilai historis di Cirebon.

“Jaksa penyidik sudah periksa beberapa saksi dan ahli sejarah serta menyita dokumen terkait perkara hilangnya Benda Cagar Budaya pompa air riol yang berada di komplek Taman Ade Irma Suryani (TAIS),” jelasnya, Rabu (27/4/2022).

Dijelaskan Umaryadi, pada tahun 2018 SGT menjabat sebagai Kabid Aset di Badan Keuangan Daerah (BKD), adapun tersangka telah melakukan penyimpangan pompa air riol yang berada di Kesenden dan sebagian di Taman Air Ade Irma Suryani.

“Sedangkan tersangka LLK adalah Kabid BKD Kota Cirebon tahun 2019 yang telah melakukan penyimpangan menjual pompa riol yang berada di Gunung Rinjani perumnas dan sebagian di Taman Air Ade Irma,” ucapnya.

Kemudian, lanjut Umaryadi, aset-aset (pompa riol) tersebut dijual kepada A dan uang hasil penjualan tidak disetorkan ke kas daerah. Atas perbuatan tersangka telah menimbulkan kerugian negara atau kerugian daerah.

“Hari ini yang hadir hanya 2 orang yaitu saudara tersangka Sigit dan Pedro. untuk dua tersangka lainnya, akan dilakukan pemanggilan ulang, apabila masih mangkir akan dilakukan penjemputan paksa,” ujarnya

Perlu diketahui, berdasarkan SK Walikota tahun 2001 aset PDAM di TAIS termasuk dalam benda cagar budaya (BCB) yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan.

Menurutnya, perbuatan tersangka melanggar Pasal 2 dan 3, junto pasal 18 UU 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi. Junto UU 20 tahun 2021 tentang pemberantasan junto pasal 55 ayat 1 KUHP dan telah merugikan negara sekitar Rp510 juta.

Sementara itu, pemerhati sejarah dan budaya Cirebon Jajat Sudrajat menanggapi bahwa nilai aset riol di neraca menurut laporan hasil pemeriksaan BPK tahun 2020 sebesar 19 milyar.

Menurut dia, aset itu telah dinyatakan ‘hilang’ berdasarkan laporan hasil audit investigasi Inspektorat yang disampaikan ke kejaksaan.

“Ini artinya kerugian negara 19 miliar. kenapa jadi 510 juta, ada apa dengan kejaksaan? Kenapa tidak pakai laporan resmi BPK sebagai satu-satunya lembaga negara yang punya kewenangan memeriksa keuangan negara?,” katanya, Kamis (28/4).

Dia menyampaikan, Kejaksaan jika ingin tahu nilai aset riol bisa membuka website BPK tentang laporan hasil pemeriksaan terkait nilai aset riol di Kota Cirebon tahun 2020.

“Janganlah main kurang mengurangi kerugian negara demi akal akalan,” tandas Jajat. (denny)

Bagikan Artikel Ini