DB 90,8 FM CIREBON

Kompas Gramedia Radio Network

Tidak Hadirnya Warsan, Ketua KPAID Kabupaten Cirebon Diduga Intimidasi Saksi

16 Desember 2020

Sidang lanjutan FS, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kabupaten Cirebon di Pengadilan Agama Sumber, terungkap fakta baru, pada Rabu, (16/12/2020).

Kuasa Hukum IE, Razman Arif Nasution mengungkapkan, Warsan yang berprofesi sebagai penggali makam mengakui bahwa yang menjadi wali nikah Fifi tersebut telah meninggal dunia pada tahun 1995 lalu.

“Seharusnya, Warsan menjadi saksi di sidang lanjutan. Namun, Warsan terpaksa tidak dapat menghadiri sidang sebagai saksi, lantaran mendapat tekanan dari pihak Fifi Sofiah dan keluarganya di Cilacap Jawa Tengah, untuk tidak datang sebagai saksi”, ungkap Razman.

Razman memaparkan, Warsan yang di dampingi Kepala Desa Bantarsari, Ngato Urohman mengakui sebagai penggali makam almarhum Samsuri yang merupakan bapak kandung fifi pada tahun 1995 dan mendapat tekanan untuk tidak hadir sebagai saksi.

“Pengakuan tersebut di tulis tangan yang ditandatangi dirinya pada tanggal 15 Desember 2020 serta kepala desa yang di cap desa diatas materai dan kemudian surat yang ditujukan kepada hakim sebagai bukti”, ucapnya.

Menurut Razman surat pernyataan yang dibuat oleh Warsan yang ditanda tanggani oleh kepala desa, diberikan kepada hakim saat berjalannya sidang sebagai bukti tambah.

“Harusnya Warsan hadir ke Pengadilan Agama Sumber sebagai saksi, karena mendapat tekanan dari Fifi, dia tidak jadi datang, tapi membuat surat pernyataan penyebab Warsan tidak bisa hadir, serta keterangannya sebagai saksi juga ditulisnya. Saya aneh melihat sikap Fifi yang sampai memberikan tekanan kepada saksi, ini ada apa, takut terkuak semuanya,” kata Razman.

Razman melanjutkan di persidang pihaknya juga menghadirkan saksi ahli dari Ketua MUI Kecamatan Kedawung dan Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat.

“Di hadapan hakim kedua saksi ahli tersebut mengatakan pernikahan tidak sah karena wali nikah Fifi yaitu bapak kandungnya Samsuri telah meninggal dunia tahun 1995, sementara di buku nikah tercata Samsuri menjadi wali nikah pada tahun 2003” ujarnya.

Pihaknya mengaku, keterangan kedua saksi ahli pun sudah jelas, pernikahan itu tidak sah.

“Hakim pun binggung orangnya sudah meninggal kok bisa jadi wali nikah, keterangan itu diperkuat oleh pernyataan penggali makam Warsan,” tuturnya.

Razman menyebutkan Fifi telah melakukan pelangaran hukum dengan mencantumkan orang yang sudah meninggal sebagai wali nikahnya di dokumen negara yakni buku nikah.

Sehingga pihaknya berencana akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan Fifi ke Polda Jawa Tengah, karena Cilacap masuk ke wilayah hukum Polda Jateng.

“Kami akan menempuh jalur hukum dan melaporkan Fifi Sofiah atas dugaan pemalsuan dokumen negara,” tandas Razman.

Sementara itu, Kuasa hukum Fifi Sofiah, Yudia Alamsyah mengatakan, terkait surat pernyataan tersebut hakim tidak terlalu menanggapi karena itu kepentingannya tergugat dan persidangan tetap dilanjutkan dengan pemeriksaan 2 orang saksi yang diajukan tergugat.

“Dua orang saksi tersebut tidak bisa menerangkan tentang pokok perkara, yaitu pertengkaran dan atau perselisihan yang mengakibatkan adanya gugatan. Saksi tidak kompeten dalam pokok perkara.

Ia menilai saksi-saksi tersebut menguatkan adanya perkawinan antara IE dengan Fifi Sofiah, bahkan buku besar catatan pernikahan KUA Mundu dihadirkan oleh saksi dari Kanwil Kemenag Bandung dan Benar tercatat pernikahan antara Ifan Effendy dengan Fifi Sofiah.

“Itu dokumen negara dan sah tercatat, karena sampai detik ini belum ada putusan pengadilan yang menyatakan dokumen pernikahan tersebut tidak sah atau palsu,” tutup Yudia.

Bagikan Artikel Ini