DB 90,8 FM CIREBON

Kompas Gramedia Radio Network

Cerita Penyintas Pertama Covid-19 yang Viral Surati Presiden

3 Desember 2020

Hingga kini pandemi Covid-19 masih belum berakhir, bahkan semakin hari jumlah kasus baru masih terus mengalami peningkatan, kendati demikian pasien yang sembuh juga mengalami peningkatan.

Riki Rachman Permana (30) adalah salah satu pasien yang sembuh berjuang melawan virus corona, adapun Riki merupakan pasien pertama yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Cirebon, hal ini tentunya menjadi pukulan yang hebat bagi kehidupan Riki dan keluarganya.

Di tengah kesibukannya sebagai pegawai disalah satu Kementerian di Jakarta, Riki menyempatkan datang ke Studio DB 90,8 FM Cirebon untuk berbagi kisahnya sekaligus menginspirasi kepada pendengar, Rabu, (2/12).

Riki menceritakan, bermula dari gejala demam yang naik turun hingga mencapai 38 derajat celcius disertai radang tenggorokan yang dirasakannya selama 5 hari. dirinya menganggapnya baik-baik saja dan hanya mengira gejala tersebut adalah gejala typus atau DBD hingga akhirnya memutuskan untuk pulang ke Cirebon karena yakin dirinya terkena typus dan butuh penanganan yang khusus.

“Pada siang hari tanggal 08 Maret 2020 saya memeriksakan diri ke RS Mitra Plumbon dan menyampaikan keluhannya kepada dokter, setelah di cek darah dan trombosit semua dalam keadaan normal, dokter pun tidak dapat memberikan diagnosa karena demam lebih dari 5 hari”, ungkap Riki.

Kemudian, lanjut Riki, dokter pun sempat menanyakan domisili dan riwayat pekerjaannya serta menyarankan melakukan CT Scan dan hasilnya ada bercak di paru-paru.

“Hasil CT Scan akhirnya Dokter menyimpulkan gejala tersebut adalah indikasi dari virus Covid-19. pada hari itu juga saya harus menjalani isolasi dan langsung di bawa ke RS Gunung Jati pada pukul 20.00 WIB”, ujarnya.

Ia mengisahkan pada saat proses pemindahan dari RS Mitra Plumbon ke RS Gunung Jati, dirinya sudah mulai merasa diperlakukan berbeda dengan pasien lain, dia harus menggunakan masker, disuruh duduk dikursi roda dan ketika akan melewati lorong di Rumah sakit kondisi koridor harus dipastikan kosong tanpa ada satu orangpun. perasaan Riki semakin berkecamuk dan campur aduk, di dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana jika dia benar positif apakah bisa sembuh kembali, mengingat banyak sekali tayangan-tayangan menakutkan di TV tentang korban meninggal karena Covid-19 termasuk di Itali.

“Setelah sampai di RS Gunung Jati, saya heran dan protes dalam hati kenapa gejala yang dirasakan berbeda dengan gejala Covid-19 yang beredar disekitar dan menyayangkan kenapa IDI tidak mensosialisasikan hal tersebut”, ucap Riki.

Selanjutnya, kata Riki, ia langsung ditempatkan di ruang isolasi yg terletak dibagian belakang dan terpisah dari Rumah sakit, yakni di ruang isolasi lama pertama kali dibangun yang digunakan untuk isolasi flu burung beberapa tahun silam.

Riki menuturkan selama di ruang isolasi Ia telah menjalani swab sebanyak lima kali dan tanggal 24 Maret 2020 merupakan swab terakhir tapi kejelasan hasilnya belum keluar juga. sambil menunggu hasil swab keluar, Ia setiap hari terus dipantau oleh dokter dan menanyakan kabarnya lewat handphone, setelah hasil swab keluar selama satu minggu, dinyatakan bahwa Riki terkonfirmasi positif Covid-19.

Setelah dirinya dinyatakan positif Covid-19, terang Riki, Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis langsung mengumumkan kasus pasien 01 Covid-19 di Cirebon lewat konferensi pers, namun menurut Riki sangat disayangkan, pasalnya pada H-1 sebelum Wali Kota mengumumkan, data pribadi Riki dari mulai nama, usia, alamat sudah bocor, hal ini yang membuatnya merasa kecewa dan aneh. dia bertanya-tanya bagaimana data nya bisa bocor dan tersebar setelah 21 hari karantina.

Kemudian Riki menulis surat terbuka yang di posting melalui akun instagramnya terkait beban psikisnya dalam menjalani perawatan Covid-19 yang membuatnya jenuh. selain itu suratnya pun berisi kritik untuk pemerintah dan kemenkes terhadap penanganan Covid-19, seperti lamanya hasil swab, memangkas urusan birokrasi dan lainnya.

Surat terbuka dari kamar isolasi RS Gunung Jati Cirebon akhirnya viral di media sosial dan ribuan kali dibagikan pengguna lainnya. Riki mengaku tulisan yang dibuat bertujuan untuk menggugah pemerintah. selain itu tentang curahan hatinya mengenai stigma negatif di masyarakat yang mendorong munculnya opini publik seolah-olah Covid-19 ini adalah aib.

Setelah surat tersebut viral mulai direspon oleh pemerintah dan suratnya mendapatkan balasan lewat email dari Staf khusus milenial Presiden, lalu Riki diminta untuk mengirimkan soft copy suratnya tersebut. meskipun mengaku tidak merasakan dampaknya langsung, namun Ia bersyukur apa yang dikeluhkan di suratnya bisa terealisasi untuk saat ini, salah satunya hasil swab yang bisa diketahui kurang dari 24 jam.

Selain itu, Riki juga dibantu oleh Kemenkes Jakarta dalam rangka tracing dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, Riki harus memberikan informasi sedetail mungkin mengenai orang-orang yang bertemu langsung berinteraksi dengannya serta memberikan data-data seperti nomer tempat duduk di kereta api, nomer polisi ojek online yang dia tumpangi. dan saat itu juga Ia langsung menelpon teman-teman di kantornya yang pernah berinteraksi langsung untuk memberikan kabar bahwa dia positif Covid-19 serta meminta rekan-rekannya untuk melakukan swab tes.

Kendati demikian, Riki merasa banyak hal yang bisa disyukuri dari sakitnya ini, dia bisa mendapatkan teman kenalan baru dan banyak relawan yang menghubungi Riki untuk memberikan makanan ke Rumah Sakit. namun, Riki merasa makanan yang diberikan Rumah sakit sudah sangat cukup dan rasanya juga enak, lalu Ia mengarahkan relawan untuk memberikan makanan-makanan tersebut kepada para perawat dan petugas medis yang dirasa lebih membutuhkan banyak asupan makanan bergizi karena tugas mereka berat, sehingga Riki merasa sakitnya ini memberikan berkah untuk orang lain.

Riki menyebutkan selama menjalani isolasi selama 47 hari dengan hasil yang membingungkan karena hasil selalu berubah-ubah, dari negatif ke positif kemudian kembali lagi negatif begitu seterusnya sampai melakukan test swab sebanyak 14 kali, Riki pun merasa bingung dan mati rasa. kemudian Ia memberanikan diri untuk mengajukan isolasi mandiri.

Setelah menjalani serangkaian tes akhirnya pihak Rumah sakit mengizinkan dengan syarat tempat yang akan dijadikan isolasi mandiri harus sesuai dengan kriteria yang diberikan Rumah sakit.

“Dan saya pun bisa keluar dari Rumah sakit menuju ke rumah isolasi dimana tempat isolasi tersebut adalah rumah saudara yang memang sudah lama tidak ditempati, karena saya tidak ingin membuat gaduh tetangga di sekitar rumah tersebut, saya memohon kepada pihak Rumah sakit untuk diizinkan menggunakan mobil pribadi dan pergi di malam hari, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan”, jelasnya.

Riki mengungkapkan setelah beberapa hari menjalani isolasi mandiri, timbulah pertanyaan dan rumor dari tetangga karena sering melihat Riki berjemur pagi hari di halaman rumah tetapi Ia tidak menghiraukan.

Seiring berjalannya waktu perjuangan Riki dan keluarga pun tidak sia-sia, setelah selama 70 hari Riki menjalani masa-masa berat dalam hidupnya, akhirnya Ia pun merasa lega mendengar kabar dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon bahwa Riki sudah dinyatakan sembuh total.

Namun perjuangan belum selesai sampai disini, Riki dan keluarga masih harus menghadapi stigma negatif dan buruk dari tetangga serta masyarakat.

“Pernah suatu hari adik saya mencuci motor di halaman rumah, air cucian motor mengalir sampai ke rumah tetangga dan mereka pun merasa ketakutan akan tertular dari bekas air cucian tersebut sampai beritanya menyebar di grup whatsapp warga”, kata Riki.

Sampai hari ini dirinya masih menyayangkan kepada orang-orang yang belum memahami betul tentang penyebaran Covid-19 dan cara penanganannya. Menurutnya, mereka mesti tahu bahwa hal itu tidak semenakutkan apa yang mereka bayangkan.

“Secara sains sudah bisa dibuktikan bahwa seorang pasien mengalami masa infeksius selama 14 hari pertama, setelah 14 hari virus tersebut tidak akan berpotensi menularkan. dan yang pertama menemukan sains tersebut adalah negara Singapura kemudian berkembang dan diakui oleh WHO yang sekarang sudah diterapkan di Indonesia”, tandasnya.

Riki sebagai penyintas pasien 01 di Cirebon berpesan stop stigma negatif terhadap orang yang terpapar Covid-19 dan satu hal yang paling penting menurutnya adalah perubahan perilaku untuk selalu terapkan protokol kesehatan karena pandemi ini belum berakhir. (denny)

Bagikan Artikel Ini