News

Pabrik Gula Di Tutup, Begini Penjelasan PG Rajawali II

Pabrik Gula Sindanglaut di Kabupaten Cirebon terpaksa tutup pada masa giling 2020 karena kekurangan tebu. Penutupan pabrik yang mengandalkan mesin tua ini menambah daftar panjang bangkrutnya pabrik gula di Jawa Barat.

Sekretaris Perusahaan PT PG Rajawali II Erwin Yuswanto mengatakan, penutupan Pabrik Gula (PG) Sindang Laut (SL) dikerenakan keterbatasan bahan baku dan sudah ada kesepakatan antara managemen dengan para petani tebu.

“Penutupan Pabrik Gula (PG) Sindang Laut (SL) adanya keterbatasan bahan baku, bukan karena ada intervensi atau faktor lainnya maupun dari kebobrokan management”, ucap Erwin, Kamis (11/3/2020).

Menurutnya, Kebijakan untuk menutup Pabrik Gula Sindang laut sudah disepakati bersama dengan petani tebu dan sejak tahun 2017 akan ditutup, namun pada saat itu ada kesepakatan petani akan menambah wilayah tanaman tebu.

“Seiringnya waktu tak juga bertambah, justru malah berkurang dan bahan baku tebu pun menyusut, membuat managemen PT PG Rajawali II mengalami kerugian sejak tahun 2016” Tegasnya.

Erwin menjelaskan, jika petani memenuhi bahan baku tebu, tentunya PT PG Rajawali II akan mempersiapan PG Sindang Laut untuk beroperasi kembali.

Dalam kurun 3 tahun terakhir, lanjut Erwin, suplai bahan baku tebu di pabrik gula PT PG Rajawali II mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut, menyebabkan pabrik penggilingan tebu tidak optimal dan mengalami kerugian.

“Sejak tahun 2016 kerugian Rp. 430 juta dan di tahun 2017 sebanyak Rp 1,5 M. Di tahun 2018 menjadi Rp. 5,5 M. serta di tahun 2019 mencapai Rp 1,5 M” ujarnya.

Terkait aksi demonstrasi beberapa waktu yang lalu serta adanya ancaman dari petani tebu yang akan membuka kebobrokan PG Rajawali, pihak Manajemen PT. PG Rajawali II menanggapi dengan santai.

“Sampai saat ini kami juga bingung dimana letak kebobrokan nya, karena penutupan PG Sindang Laut berdasarkan atas kajian yang sudah dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta”, pungkasnya.