Akibat Proyek Situs Matangaji Di Bongkar, Begini Tanggapan Warga


Warga yang berada RT 1 RW 09 Kelurahan Karyamulya Kecamatan Kesambi Kota Cirebon dibuat meradang dengan di bongkarnya situs bersejarah Pangeran Matangaji.

Diketahui, lokasi cagar budaya yang di bongkar akan dijadikan kawasan perumahan oleh PT Dua Mata Sejahtera.

Berdasarkan pantauan dilokasi, situs atau cagar budaya pangeran matangaji yang terletak di dekat bantaran kali sudah rata dengan tanah. Tidak hanya itu, sisa penebangan pohon bambu pun dibiarkan begitu saja.

Menurut Litbang RW 09 Bapak Casma menuturkan, hujan besar beberapa hari lalu, membuat aliran sungai situgangga meluap, Hal ini dikarenakan di sisi bantaran sungai dipenuhi oleh bekas penebangan pohon bambu.

“Kalau hujan besar air sungai ini meluap ke perkampungan dan merendam sekitar 50 rumah warga, ketinggian air hingga sedada orang dewasa atau sekitar 1 meter, kalau kerugian materil itu sih sudah pasti”, kata Casma.

Menurut Casma, Selain membongkar situs, proyek yang dikerjakan terkesan tidak mempedulikan lingkungan sekitar. Setelah pembongkaran situs yang didominasi pohon bambu, developer membuang bambu yang sudah ditebang ke sungai. Hal ini membuat kampung di RT 1 RW 09 Kelurahan Karyamulya menjadi kebanjiran.

Menurutnya, dari kelurahan pun belum ada tanggapan soal keluhan dari warga serta belum adanya bantuan terkait banjir dari pihak developer. Bahkan pasca banjir saja, pihak developer sama sekali belum mengulurkan tangannya. Casma pun pernah menegur ke mandor proyek. Namun dia hanya diberi tahu agar melapor saja ke pihak developer.

Ditempat berbeda, salah satu warga yang namanya enggan disebutkan, dirinya melihat langsung proses pembongkaran situs tersebut. Dirinya merasa bersedih, karena situs bersejarah yang seharusnya dijaga dan dirawat, justru dibongkar seenaknya.

Dia menuturkan, situs tersebut kerap dikunjungi oleh orang-orang untuk berziarah karena merupakan petilasan Pangeran Matangaji, Sultan ke V dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon dengan nama aslinya adalah Syaifudin. Dijuluki Matangaji karena beliau merupakan seorang Sultan yang matang dalam mengaji atau pandai dalam ilmu agama, sehingga disebut Matangaji.

“Dulunya di sini banyak yang berziarah, biasanya habis dari makam Sunan Gunung Jati langsung ke sini,” ucapnya saat ditemui di rumahnya yang berdekatan dengan situs Matangaji, Jumat (14/2/2020).

Saat situs tersebut dibongkar, dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, dia tak tahu harus mengadu kemana. Dia pun menyayangkan pihak developer yang hanya menjanjikan saja kepada warga sekitar. Sebelumnya, pihak developer berjanji akan membuat akses jalan menuju ke masjid yang ada di Jalan Swasembada yang ada di seberang sungai.

“Sebelum ada perumahan, anak-anak pada ngaji ke masjid itu. Sekarang ketika mau dibikin perumahan, akses jalannya ditutup. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ucapnya lirih.

Menu Title